Pengaruh Kolonial, Perlawanan, dan Identitas Budaya

Kajian tentang Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer dan Kaitannya dengan Hukum Adat Buton

Penulis

  • Nani Cahyani English and Foreign Languages University, Hyderabad, India Penulis
  • Dinna Dayana La Ode Malim Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia Penulis

DOI:

https://doi.org/10.46891/kainawa.6.2024.17-31

Kata Kunci:

Pascakolonialisme, Identitas Budaya, Perlawanan, Pengaruh Kolonial, Buton, Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer

Abstrak

Studi ini mengeksplorasi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer sebagai refleksi identitas dan perlawanan budaya pascakolonial, membandingkan wawasannya dengan pengalaman masyarakat Buton dalam pelestarian identitas. Novel ini menyelidiki ketegangan antara budaya Jawa tradisional dan modernitas kolonial Belanda, khususnya melalui karakter seperti Minke dan Nyai Ontosoroh, yang mewujudkan hibriditas dan perlawanan budaya. Konsep pascakolonial, seperti 'Ruang Ketiga' karya Homi Bhabha digunakan untuk menganalisis pergeseran budaya dan pemberdayaan yang ditawarkan melalui pendidikan. Budaya maritim dan lokasi strategis masyarakat Buton diperiksa sebagai kasus mempertahankan identitas di tengah pengaruh eksternal, yang menunjukkan paralel dalam menavigasi warisan kolonial. Pertanyaan penelitian dari studi ini adalah: bagaimana Bumi Manusia menggambarkan pengaruh pascakolonial, dan bagaimana penggambaran identitas budaya dan perlawanannya dibandingkan dengan upaya masyarakat Buton untuk melestarikan budaya mereka? Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh pascakolonial, identitas budaya, dan perlawanan dalam Bumi Manusia dan menganalisis relevansinya dengan tantangan sosial-budaya kontemporer masyarakat Buton. Metodologi penelitian ini berfokus pada pergeseran identitas budaya dalam perjalanan Minke dan paralelnya dengan pengalaman pascakolonial masyarakat Buton, didukung oleh artikel ilmiah dan situs web untuk mendukung argumen. Kerangka teoritis penelitian ini menghubungkan narasi Bumi Manusia dengan identitas dan jati diri budaya masyarakat Buton melalui penerapan teori Homi Bhabha, Stuart Hall, dan Geertz Clifford untuk mengeksplorasi identitas hibrida dan budaya. Temuan utama adalah bahwa kolonialisme Belanda sangat memengaruhi sistem sosial-politik dan ekonomi masyarakat terjajah seperti masyarakat Buton. Belanda memperkenalkan struktur administratif, kebijakan ekonomi, dan hierarki sosial baru yang merusak kepemimpinan tradisional dan praktik ekonomi lokal. Terlepas dari kesulitan ini, masyarakat Buton menunjukkan ketahanan dengan mempertahankan identitas mereka melalui adat, tradisi spiritual, dan praktik maritim mereka. Wawasan penting lainnya adalah peran hibriditas dalam membentuk identitas dan perlawanan di antara orang Buton. Mengacu pada teori Homi Bhabha, mereka memadukan pengaruh Barat seperti pendidikan dan teknologi dengan tradisi mereka, sehingga menciptakan ekspresi identitas baru. Perlawanan muncul melalui penegasan budaya dan adaptasi kreatif terhadap adat istiadat, yang menonjolkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi mereka terhadap otoritas kolonial.

Referensi

Akbar, F. D., & Kurnia, F. D. (2015). Javanese Native Resistance Against Colonial’s Authority in Pramoedya Ananta Toer’s “This Earth of Mankind.” Litera Kultura: Journal of Literary and Cultural Studies, 3(2), 64–71. https://doi.org/10.26740/lk.v3i2.11728

Anshen, D. (2017). Marxist Literary and Cultural Theory (A. Slade, Ed.). Orient BlackSwan.

Bagus Muljadi. (2024, October 25). Dari Mana Bibit Bahasa Indonesia? - Hilmar Farid | Chronicles #9. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=dWuDbM4geLw

Bhandari, N. B. (2022). Homi K. Bhabha’s Third Space Theory and Cultural Identity Today: A Critical Review. Prithvi Academic Journal, 5, 171–181. https://doi.org/10.3126/paj.v5i1.45049

Cahyani, N. (2022). Social Differences and Discrimination in Pramoedya Ananta Toer’s the Girl From the Coast. International Journal of Creative Research Thoughts, 10(1), b709–b717.

Faharudin. (2022). Implementation of the Legal Value of Bhinci-Bhinciki Coolies of the Sultanate of Buton in the Maintenance of Government. SASI, 28(4), 521–531. https://doi.org/10.47268/sasi.v28i4.1024

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books.

Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks of Antonio Gramsci (G. Nowell-Smith & Q. Hoare, Eds. & Trans.). International Publishers.

Hagen, J. M. (1997). “Read All about It”: The Press and the Rise of National Consciousness in Early Twentieth-Century Dutch East Indies Society. Anthropological Quarterly, 70(3), 107–126. https://doi.org/10.2307/3317671

Hall, S. (1989). Cultural Identity and Cinematic Representation. Framework: The Journal of Cinema and Media, 36, 68–81. https://www.jstor.org/stable/44111666

Harlow, B. (1987). Resistance Literature. Methuen.

Hasan, H. (2023). Islamic Society of Buton (Historical and Cultural Analysis Study on Buton Islamic Society). Jurnal Kawasan Sejarah, 1(1), 1–10.

Johnson, D. (2003). Butonese Culture and the Gospel (A Case Study). Melanesian Journal of Theology, 19(2), 97–120.

Malim, D. D. L. O., Sumantri, I., Supriadi, & Tahara, T. (2019). Inventarisasi dan Pengembangan Potensi Cagar Budaya Kota Baubau. Kainawa: Jurnal Pembangunan dan Budaya, 1(1), 1–15. https://doi.org/10.46891/kainawa.1.2019.1-15

Nalefo, L. (2018). The Role of Martabat Tujuh within the Society of the Sultanate Buton Wolio. Asian Culture and History, 10(1), 6–18. https://doi.org/10.5539/ach.v10n1p6

PTI. (2023, February 12). ‘People Don’t Need…,’ What Historian, Sapiens Author Harari Thinks About Teaching History. The Free Press Journal. https://www.freepressjournal.in/education/people-dont-need-what-historian-sapiens-author-harari-thinks-about-teaching-history

Rudyansjah, T. (1997). Kaomu, Papara dan Walaka: Satu Kajian mengenai Struktur Sosial dan Ideologi Kekuasaan di Kesultanan Wolio. Jurnal Antropologi Indonesia, 21(52), 44–53. https://doi.org/10.7454/ai.v0i52.3315

Song, S.-W. (2018). Origin Narratives, Origin Structures, and the Diarchic System of Buton Kingdom, Indonesia. Indonesia and the Malay World, 46(135), 135–153. https://doi.org/10.1080/13639811.2018.1442700

Sykorsky, W. V. (1980). Some Additional Remarks on the Antecedents of Modern Indonesian Literature. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, 136(4), 498–516. https://doi.org/10.1163/22134379-90003521

Toer, P. A. (1996). This Earth of Mankind (Buru Quartet) (M. Lane, Trans.). Penguin Books.

Diterbitkan

2024-05-31

Terbitan

Bagian

Artikel

Cara Mengutip

Pengaruh Kolonial, Perlawanan, dan Identitas Budaya: Kajian tentang Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer dan Kaitannya dengan Hukum Adat Buton. (2024). Kainawa: Jurnal Pembangunan Dan Budaya, 6(1), 17-31. https://doi.org/10.46891/kainawa.6.2024.17-31